Minggu, 25 Jun 2017, 9:30:03
Main » 2013 » Februari » 14 » Perjalanan Maharaja Diraja
1:47:37
Perjalanan Maharaja Diraja
 Tambo memulai asal-usul dan perjalanan Maharaja Diraja dengan paparan:
"Manuruik warih nan dijawek, pusako nan ditolong, kaba asa nan dahulu, kok gunuang sabingkah tanah, bumi ko sapahimbauan, kok lauik sacampak jalo, tanah darek balun lai leba. Timbua gunung Marapi. Lorong nan niniak moyang kito, asa-usuanyo kalau dikaji bana, iyo dalam sapiah balah tigojurai.

Nan tuo banamo Maharjo Alih, nan tingga di banua Ruhum, nan tangah Maharajo Dipang, nan jatuah ka banua Cino, nan bungsu Maharajo Dirajo, nan turun ka pulau Ameh nangko.

Menurut waris yang diterima, pusaka yang ditolong, kabar asal yang dahulunya, gunung sebingkah tanah, bumi sepehimbauan, laut selontaran jala, daratan belum seluas ini. Timbul gunung Merapi. Dalam pada itu, nenek moyang kita, asal-usulnya kalau dikaji benar, ialah dalam serpihan belah tiga jurai.
Yang tua bernama Maharaja Alif, yang turun ke benua Ruhum (Rum Timur), yang ditengah Maharaja Dipang, yang turun ke benua Cina, yang bungsu Maharja Diraja, yang turun ke pulau Emas ( salah satu dari nama pulau Sumatra).
            Kemudian disambung pula dengan kalimat: Takalo maso dahulu, samusim saisuak, iyo bak kato pusako:

                Di mano titiak palito
di baliak telong nan batali
Di mano turun niniak kito
Di lereng gunung Marapi


Menurut kaba atau Tambo, tanah air kita ini dahulunya belum terpisah-pisah seperti sekarang. Tanah air kita masih bersatu dengan tanah Semenanjung Malaka sampai ke dataran Asia.
Dimasa banjir Nabi Nuh (kiamat Nabi Nuh), hancurlah tanah-tanah itu dilanda banjir besar, sehingga terjadi erosi, muncul selat-selat dan pulau-pulau besar dan kecil, yang jumlah ribuan. Dalam mamangannya dinukilkan:

Pisau sirauik bari bahulu
Diasah mangko bamato
Lautan sajo dahulunyo
Mako banamo pulau Paco (pulau Perca, juga nama lain dari Sumatra)

            Ketika air surut Maharaja Diraja berlayar. Tatkala ia dan rombongan melihat gunung Merapi telah timbul, ia merapat dan berlabuh di kaki lereng gunung Merapi. Informasi Tambo menyebutkan Maharaja Diraja dan rombongannya berlabuh pada sebuah tempat yang bernama lagundi nan baselo (sebuah pohon yang akarnya mirip orang bersila). Dan dari sana ia dan rombongannya membagun kampung, taratak, dusun, kemudian nagari.

            Dari kisah Tambo tersebut maka kita perlu meretas satu-persatu, apa yang digambarkan Tambo itu. Sebelum perjalanan dikisahkan, kita mendapat informasi tentang keturunan nenek moyang suku bangsa Minangkabau. Mereka adalah tiga orang bersaudara, putra dari Iskandar Zulkarnain (dalam versi lain). Maharaja Diraja, adalah putra bungsu. Sedangkan yang tertua adalah Maharaja Alif yang memerintah negeri Rum Timur, dan yang kedua adalah Maharaja Dipang, menjadi raja di negeri Cina Boleh dikatakan secara umum pembaca mengetahui akan informasi tersebut. Dan itulah kebanggaan tersendiri sebagian besar anak-kemenakan suku bangsa Minangkabau ini.

ISKANDAR ZULKARNAIN
(Alexander Yang Agung)

            Alexander Yang Agung atau Iskandar Zulkarnain, penakluk yang tersohor dari dunia silam itu dilahirkan di Pello tahun 356 SM, ibukota Macedonia. Orang tuanya, Raja Philip II dari Macedonia, seorang ahli perang. Dengan kemampuannya, ia mampu mengorganisir Angkatan Bersenjata Macedonia, menjadi mesin tempur yang berkualitas tinggi. Dengan Angkatan Bersenjatanya itu, Philip II menaklukan Yunani dan daerah sekitarnya. Sayang ketika ia merancang penyerangan Kekaisaran Persia, dan di tahun 336 SM memulai penyerangan ke bagian timur Kekaisaran tersebut, ia tewas dalam pertempuran. Yang tatkala ia baru berusia empat puluh tahun.
            Memang jauh-jauh hari Philip II telah mempersiapkan putranya, Iskandar.  Tidaklah sulit bagi Iskandar untuk menduduki tahta, mengantikan ayahnya. Tatkala itu ia baru berusia dua puluh tahun, masih muda belia. Seorang anak muda yang memiliki kehandalan militer, dan ia juga diserahkan oleh ayahnya pada seorang filosof, yakni Aristoteles. Di masa itu disebutkan Aristoteles, seorang yang paling cendikiawan dan filosof yang termasyhur zaman itu.
            Semula bangsa yang menjadi taklukan Macedonia menganggap dengan kematian Philip II, mempunyai peluang untuk mengusir dari daerah mereka. Melepaskan diri dari genggaman sepenuhnya dari Macedonia. Akan tetapi anggapan mereka sirna seketika. Dua tahun setelah Iskandar naik tahta. Anak muda ini mampu mengatasi gejolak di daerah tersebut. Setelah itu Iskandar mulai melirik Persia, sesuai dengan cita-cita ayahnya.
            Kekuasaan bangsa Persia, selama dua ribu tahun sangatlah luas. Terbentang mulai dari Laut Tengah hingga ke India. Walaupun di masa itu kejayaan Kekaisaran Persia mulai surut, namun bagi Macedonia masih tetap merupakan lawan tangguh.
            Tahun 334 SM, Iskandar melancarkan serangan awal ke Persia. Iskandar hanya mempunyai tentara 35.000 orang, jelaslah tidak sebanding dengan kekuatan Angkatan Bersenjata Persia. Ini merupakan misi berani mati dari Iskandar. Kendati pun banyak rintangan yang harus dihadapi, Iskandar berhasil memenangkan pertempuran tersebut Dan dalam pertempuran tersebut, yang menjadi kunci kemenangannya adalah karena pasukan benar-benar terlatih. Lalu Iskandar sendiri adalah panglima perang yang gagah berani. Ketiga, dia langsung memberi komando di atas pelana kudanya. Semua membuat rasa percaya diri para tentaranya semakin kuat untuk menggempur musuh-musuh mereka.
            Iskandar Zulkarnain memang seorang penakluk yang tidak ada duanya, di masa itu. Setelah melumat Persia, menerjang Asia Kecil,  Mesir menyerah tanpa perlawanan. Di sana dia diberi gelar Firaun dan dinobatkan sebagai dewa. Babylon pun dilabraknya, itulah akhir dari kejatuhan Kekaisaran Persia. Raja Darius III terbunuh oleh tentaranya sendiri, karena tidak ingin melihat raja itu menyerah pada Iskandar. Asia Tengah pun ia jamah. Demikian juga India bagian barat
Ia beristrahat beberapa tahun. Dalam peristrahatan yang agak panjang tersebut, ia mulai memikirkan tentang kebudayaan. Ia ingin memperlihatkan kepada dunia bahwa bangsa Yunani, bukanlah bangsa barbar. Walaupun ia pernah menaklukan bangsa Persia, ia pun menaruh perhatian pada kebudayaan Persia. Berkat dukungan gurunya, Aristoteles, Iskandar Zulkarnain memadukan kebudayaan Yunani dan Persia, pertemuan antara Timur dan Barat.
Demikianlah selintas riwayat hidup Iskandar Zulkarnain atau lebih dikenal di dunia barat, Alexander the Great. Ada orang bilang ia hanya seorang militer yang haus penaklukan, dan seorang barbar. Tapi dalam kenyataannya, di zamannya hidup para filosof termasyhur. Dan berkembangnya kebudayaan barat dan timur. Pengaruhnya kebudayaan tersebut sampai mendunia. Sayang, dia meninggal pada usia muda tahun 323 SM, saat berada di Babylon. Ia terserang demam panas, dan menghembuskan nafas dalam usia belum lagi tiga puluh tahun. Yang perlu dicatat; Iskandar berhasil mendekatkan kebudayaan Yunani dengan Timur Tengah, sehingga masing-masing mendapat manfaat, sekaligus mempertinggi kebudayaan masing-masing. Pun pengaruh kebudayaan Yunani menyebar ke India, dan Asia Tengah.

Agaknya kebesaran Iskandar Zulkarnain itu menjadi insprasi Tambo untuk menghubungkan nenek moyang suku bangsa Minangkabau. Dalam sejarah disebutkan bahwa seluruh keluarga Iskandar Zulkarnain terbunuh, karena perebutan kekuasaan. Lalu kenapa tiba-tiba muncul tiga orang putra Iskandar Zulkarnain? Dan tiga putra tersebut, menjadi raja di negeri Rum, Cina dan Minangkabau. Dua negeri yang ditunjuk, yaitu Romawi (Rum Timur) dan Cina adalah negeri memiliki kebudayaan tinggi.
Jika kita simak, penaklukan Iskandar Zulkarnain sampai ke India, dan pengaruh kebudayaan Yunani pun menjalar ke daerah taklukannya, termasuk Rum. Sedangkan pengaruh kebudayaan Yunani kepada Cina, perlu kajian yang khusus. Lalu siapakah "pencipta” Tambo itu. Apakah dia seorang perantau dari Minangkabau, yang pernah mengembara ke India, Cina, Rum, Yunani. Atau dia hanyalah seorang pendengar yang cerdas, yang mampu menyerap dan menyimpan dalam kepalanya setiap kisah yang diceritakan pencerita lain. Lantas kapan dia hidup? Kita memang buta akan masalah ini. Lagi pula, awal mula Tambo tersebut dikabakan lewat oral atau lisan. Sedang ketika Tambo dituliskan dengan huruf latin (atau Arab Melayu: kalau ada), tidak ada sedikit pun menjelaskan siapa”pencipta” kaba asal-usul itu.
            Tapi yang lebih penting adalah mencari kenapa asal-usul suku bangsa Minangkabau itu dihubungkan dengan Iskandar Zulkarnain. Sebagai makhluk Tuhan yang diberi bekal dengan akal atau pikiran, kita tidak berdosa membuat hipotesa. Apakah tidak mungkin masih tersisa keluarga Iskandar Zulkarnain dari pembantaian karena perebutan kekuasaan di Macedonia, setelah ia meninggal? Hal itu bisa saja terjadi. Sebagai seorang raja besar, sudah lumrah ia juga mempunyai istri atau selir di luar istana. Dan keturunan yang ada di luar istana itu, mendengar ayah mereka mangkat, dan kekuasaannya diperebutkan oleh panglima-panglimanya. Tentulah mereka menyingkir ke daerah lain, yang lebih aman. Di antara mereka yang selamat, Alif, Dipang, Diraja. Kebetulan nasib baik berpihak kepada mereka, sehingga menjadi pemimpin di suatu wilayah.
            Maharaja Alif menjadi raja di negeri Ruhum (Rum Timur). Lalu Maharaja Dipang dan Maharaja Diraja dapat kita asumsikan bersama ke negeri Cina. Di Cina, Dipang dapat merebut kekuasaan, ia naik tahta dengan gelar Maharaja Dipang. Sementara itu Diraja hanya mendapat kedudukan sebagai kerabat raja.
            Bila kita hubungkan dengan waktu atau masa, kematian Iskandar Zulkarnain pada tahun 323 SM. Kita patok saja usia mereka sekitar dua puluh tahun, maka masa Dipang dan Diraja di negeri Cina sekitar 300 SM. Lantas kita harus mencari pula, dinasti apa yang berkuasa tahun 300 SM. Penulis mendapatkan raja Cina yang berkuasa sekitar 250-210 SM, dia adalah Shih Huang Ti (Mendekati masa hidup Dipang dan Diraja).
            Shih Huang Ti juga menyebut diri Wang, yang artinya raja. Dalam dialek Minang, ucapan Waang dipakai untuk orang kedua. Memang banyak pemakaian kata atau bahasa Cina ke dalam bahasa kita, seperti cawan, teko dan sebagainya. Dan kalau kita simak secara seksama, tampak ada pengaruh Cina terhadap kebudayaan Minangkabau, seperti pakaian pengantin perempuan, pakain lelaki, perhiasan dan lain-lain.
Baiklah, kita menjemput kembali mamangan asal-usul :
           
                Di mano asa titiak palito,
dari baliak telong nan batali
Dari mano asa nenek moyang kito,
dari lereng gunung Marapi

            Kita coba menfasirkan baris kedua dari pantun ini : kata telong, jelaskan bukan berasal bahasa Minangkabau tapi dari Cina, yaitu sebuah lentera yang terbuat dari kertas, atau dikenal juga dengan sebutan lampion. Alat penerangan ini lumrah dipakai pada tempo dulu oleh masyarakat Cina. Sedangkan alat penerangan di Minangkabau, yaitu suluh (ada yang terbuat dari daun kelapa kering, dan ada juga bambu yang diberi sumbu, yakni obor). Maka dapatlah kata "kata telong” merupakan kata bermakna tersirat, bahwa sebelum mereka menetap di lereng gunung Marapi, nenek moyang suku bangsa Minangkabau itu pindah dari negeri asalnya, ialah negeri Cina.
            Diraja tinggal bersama saudara tengahnya, Dipang di Cina beberapa lama. Bila dihubungkan dengan Shih Huang Ti adalah sama dengan Dipang, maka perpindahan Diraja dari Cina, bukanlah perpindahan biasa, dapatlah kita samakan dengan eksodusnya Nabi Musa dari Mesir, karena perselisihan dengan Firaun. Dikisahkan Diraja melarikan diri dari Cina, mempunyai persamaan dengan eksodus Musa dan pengikutnya. Karena di masa pemerintahan Shih Huang Ti terjadi pembantaian terhadap mereka yang tidak sepaham dengan sang raja itu. Hal tersebut itu dilakukan oleh karena Shih Huang Ti ingin "menyelamatkan” kekuasaannya, dari lawan-lawannya. Kemungkinan bahaya tersebut pun datang dari Diraja, saudaranya sendiri.
            Melihat keadaan seperti itu, Diraja dan keluarga serta pengikutnya yang setia, segera melarikan diri. Dari pantai mereka lalu berlayar menuju Sumatra. Hipotesa yang saya buat ini, belumlah final. Sementara itu "kebenaran” Maharaja Diraja memang putra bungsu Iskandar Zulkarnain, baru dikaji sebatas kulit pertama. Tapi saya akan mengajak pembaca terlebih dahulu ke masalah : Apakah Iskandar Zulkarnain sang raja Macedonia tersebut, yang dimaksud oleh Tambo – seperti tertulis dalam al-Quran, surat al- Kahfi ?

            "Mereka akan bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Zulkarnain. Katakanlah aku akan bacakan kepadamu tentangnya. Sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepadanya di (muka) bumi, dan Kami telah memberi kepadanya jalan (untk mencapai) segala sesuatu. Hingga apabila dia telah sampai ke tempat terbenam matahari, dia melihat matahari terbenam di dalam laut yangberlumpur hitam, dan dia mendapatkan di situ segolongan umat. Kami berkata: Hai Zulkarnain, kamu boleh menyiksa atau berbuat kebaikan terhadap mereka.Berkata Zulkarnain: Adapun orang aniaya, maka kami kelak akan mengazabnya, kemudian dia kembalikan kepada Tuhannya, lalu Tuhan mengazabnya dengan azab yang tidak ada taranya. Adapun orang yang bermal saleh, maka baginya pahala yang terbaik, sebagai balasan, dan akan Kami titahkan kepadanya (perintah) yang mudah dari perintah Kami. Kemudian dia menempuh jalan (yang lain). Hingga apabila ia telah sampai ke tempat terbit matahari (sebelah Timur) dia mendapati matahari itu menyinari segolongan umat yang Kami tidak menjadikan bagi mereka sesuatu yang melindunginya dari (cahaya) matahari itu, demikianlah. Dan sesungguhnya ilmu Kami meliputi segala yang ada padanya. Kemudian ia menempuh suatu jalan (yang lain lagi) Hingga apabila dia telah sampai di antara dua buah gunung, dia mendapati di hadapannya kedua bukit itu suatu kaum yang hampir tidak mengerti pembicaraan. Mereka berkata,”Hai Zulkarnain, sesungguhnya Ya’juj dan Ma’juj itu orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi, maka dapatlah kami memberikan suatu pembayaran kepadamu, supaya kamu membuat dinding antara kami dan mereka?Zulkarnain berkata,”Apa yang telah dikuasakan oleh Tuhanku kepadaku terhadapnya adalah lebih baik, maka tolonglah aku dengan kekuatan (manusia dan alat-alat), agar aku membuatkan antara kamu dan mereka. Berikanlah potongan-potongan besi hingga apabila besi itu telah sama rata dengan kedua (puncak) gunung itu, berkatalah Zulkarnain,”Tiuplah api itu)”. Hingga apabila besi itu sudah menjadi (merah seperti) api, diapun berkata,” agar kutuangkan (yang mendidih) besi panas itu.” Maka mereka tidak bisa mendaki dan mereka tidak (pula) melobanginya.Zulkarnain berkata,”Ini (dinding) adalah rahmat dari Tuhanku, maka apabila sudah datang janji Tuhanku, dia kan menjadikanya hancur luluh, dan janji Tuhanku itu adalah benar,”Kami biarkan mereka bercampur aduk antara satu dengan yang lain, kemudian ditiupkan lagi sangkakala, lalu Kami kumpulkan mereka itu semua, dan Kami nampakan jahanam kepada orang-orang kafir dengan jelas. Yaitu orang-orang yang matanya dalam keadaan tertutup dari memperhatikan tanda-tanda kebesaran-Ku, adan adalah mereka yang tidak sanggup mendengarnya” (Q,S: 18; 83-101)

            Dari cuplikan al-Quran, surat al-Kahfi tersebut, kelihatan "pembuat Tambo” ingin menjelaskan kepada para pendengar bahwa "nenek moyang” itu adalah orang yang terpilih, sebelum Nabi Muhammad diutus oleh Tuhan. Zulkarnain, bukan sekadar pemimpin militer tapi juga orang yang berilmu, sehingga dia diberi tugas oleh Tuhan memberantas orang-orang kafir. Dan Rasulullah pun seorang negerawan, pemimpin militer dan umat manusia.
            Maka kita tafsirkan  Tambo asal-usul tersebut, diciptakan dan dikabakan oleh seseorang yang telah memeluk agama Islam. Kemungkinan ia berada dan hidup di zaman Minangkabau mencapai puncaknya . Dan bukanlah hal yang muskil apabila asal-usul suatu suku bangsa atau bangsa dikisahkan secara berlebihan. Pengkaitan  dengan negeri Rum, Cina merupakan kebanggaan tersendiri. Disamping itu "pembuat Tambo” diperkirakan dalam membaca dan menerjemahkan al-Quran (dan menafsirkan), belum memiliki pengetahuan yang memadai tentang penerjemahkan . Sehingga dalam memahami surat al-Kahfi, lebih terkesan tergesa-gesa. Lagi pula yang dimaksud dituju hanyalah "kehebatan” Zulkarnain, yang kemudian dihubungkan dengan Iskandar Zulkarnain (Padahal al-Quran hanya menyebut Zulkarnain, bukan Iskandar Zulkarnain) Dari berbagai pendapat umum disimpulkan bahwa Yakjuj dan Makjuj merupakan bagian kisah asal-usul dan pemikiran munculnya Tambo. Karena rangkaiannya, di masa lampau negeri Minangkabau terus-menerus dijajah oleh kerajaan maupun bangsa lain. Dan Yakjuj dan Makjuj merupakan bahaya bagi umat manusia, di mana sikap kedua mahkluk tersebut membuat kerusakan di muka bumi ini. Implementasi dari mereka yang suka berbuat kerusakan dimuka ini, antara lain: penjajahan bangsa lain terhadap bangsa lainnya.


Catatan:
Bangsa lain dalam membesarkan bangsanya sendiri, senantiasa mengaitkan asal-usul nenek moyang mereka dengam mitologi: bangsa Yunani dan Romawi mengaitkan dengan para dewa. Demikian pula dengan bangsa Jepang, yang mengaitkan dengan Dewa Matahari. Tampaknya demikian pula dengan suku bangsa Minangkabau.

Di Indonesia, al-Quran diterjemahkan pertama kali oleh Syekh Abdur Rauf as-Singkile pada abad ke 16. Al-Quran tersebut diterjemahkan (dan tafsiran) dengan bahasa Melayu, yang berhuruf Arab gundul.

Istilah Yakjuj dan Makjuj (Ya’juj dan Ma’juj) disebut dalam al-Quran, pada surat al-Kahfi:94 dan surat al-Anbiya:98. Al-Quran menyebutkan sifat dari Yakjuj dan Makjuj itu adalah mufsiduna fi al-ard (yang merusak di muka bumi). Pada surat al-Kahfi: dikatakan bahwa penduduk di antara dua gunung merasa cemas kalau Yakjuj dan Makjuj itu datang ke negeri mereka. Mereka bersedia membayar upeti pada Zulkarnain, bila ia bisa membangun tembok pertahanan. Sementara itu pada surat al-Anbiya 96 digambarkan bahwa apabila pintu telah terbuka, dan Yakjuj dan Makjuj masuk, maka terjadilah hari kiamat. Kitab-kitab tafsir berbeda pendapat tentang apa yang dimaksud Yakjuj dan Makjuj. Ada pendapat yang menyebutkan bahwa Yakjuj dan Makjuj tersebut adalah bahaya dari Mongol yang telah memporak-porandakan Bagdad. Tapi kenyataan tersebut dianggap keliru oleh para ahli tafsir lain. Karena Mongol setelah itu telah banyak berbuat dalam membangun dan mendirikan kembali kerajaan Islam, seperti di Turki dan India.

BANJIR NUH

            Informasi yang disampaikan kepada kita: Maharaja Diraja berlayar setelah banjir besar pada zaman Nabi Nuh.  Akan tetapi Tambo tidak menyebutkan bahwa Maharaja Diraja dan pengikutnya merupakan bagian dari umat Nabi Nuh. Tambo hanya menyatakan masa keberangkatan dan berlabuhnya Maharaja Diraja lereng kaki gunung Marapi ketika banjir besar tersebut selesai.
            Ditilik kepada masa terjadinya banjir Nabi Nuh tersebut, sekitar dua puluh dua abad sebelum masehi (XXII SM). Waktu itu kebudayaan manusia sudah berkembang, dan bumi ini telah terkembang sebagaimana yang kita temui sekarang ). Jelaslah asumsi yang dikabarkan oleh Tambo tentang bumi belum mengacu pada ilmu Bumi.  Lagi pula kita dibuat bingung karena antara satu informasi dengan informasi saling bertolak belakang. Misalnya, dengan merujuk Maharaja Diraja sebagai salah seorang putra Iskandar Zulkarnain (Abad ke III SM). Dan sangat kacau lagi, apabila ada pula inforamsi yang menyatakan, Zulkarnain yang dimaksud tersebut seorang raja Turki, yang hidup sekitar abad 11 Masehi. Yang kemudian anaknya mendirikan kerajaan Inderapura di Pesisir Selatan.


Catatan:
Tentang Banjir di zaman Nabi Nuh, bukan saja dimuat dalam al-Quran tapi juga dimuat oleh kitab-kitab lainya: Perjanjian Lama (Bibel). Banjir itu terjadi ketika Nabi Nuh berusia 600 tahun. Maurice Bucalle dalam bukunya” Bibel, Al-Quran dan Sains Modern” (penerbit Bulan Bintang: penerjemahan H.M.Rasjidi) : berpendapat bahwa keterangan al-Quran lebih layak dipercaya. Ia menyatakan bahwa Banjir Nabi Nuh hanya menghukum umat Nuh, bukan seluruh umat yang ada di dunia ini. "Bagaimana mungkin orang dapat menggambarkan bahwa Banjir Nuh itu membinasakan penghidupan di atas seluruh dunia (kecuali penumpang Perahu Nabi Nuh) pada abad ke XXI atau abad ke XII SM. Pada waktu itu di beberapa tempat di dunia telah berkembang bermacam-macam peradaban yang bekas-bekasnya dapat kita lehat sekarang. Bagi Mesir umpamanya, waktu itu adalah zaman yang menyaksikan akhir Kerajaan lama dan permulaan Kerajaan baru.”  Jadi kesimpulan Maurice menyatakan bahwa penjelasan al-Quran tentang Banjir Nuh lebih akurat, layak dipercaya, sesuai dengan Sains Modern


sumber:tambodunia.blogspot.com
Category: Minangkabau | Views: 1519 | Added by: dash | Rating: 0.0/0
Total comments: 0
Nama *:
Email:
Code *: