Sabtu, 21 Okt 2017, 7:54:42
Main » 2013 » Februari » 20 » PERJALANAN SPIRITUAL
2:37:07
PERJALANAN SPIRITUAL
Tujuan sufisme adalah mengumpulkan semua keberagaman kedalam kesatuan,dengan totalitas wujud seseorang.Untuk dapat bergerak dari keberagaman kepada kesatuan ,pertama –tama dalah dengan membunuh diri,bukan kematian biologis tetapi kematian spiritual,dimana dengan hal tersebut jiwa ditransformsaikan kembali kedunia kebendaan.Matikan dirimu sebelum mati.
Jalan Spiritual :
  • Setiap jalan spiritual menekankan pada satu aspek tertentu dari kebenaran.
  • Agama Kristen pada hakikatnya mnekankan pada jalan cinta kasih.
  • Pada orang suku Sioux unsur yang terpenting adalah pengingkaran diri.
  • Bangsa jepang menekankan pada reinkarnasi.
  • Agama Islam lebih menekankan pada jalan Pengetahuan,yang membawa pada bentuk yang lebih tinggi yaitu pengetahuan yang mencerahkan.
Nabi adalah individu yang dalam bentuknya menampilkan dan mewujudkan semua kemungkinan kemanusiaan.Dengan kawin dan mempunyai anak,Ia mengungkapkan sifat dasar kemanusiaannya.Dengan menerima wahyu walau tidak bisa tulis baca,dia merupakan wadah tempat sifat-sifat Ketuhanan berkumpul di dalamnya.

Untuk mengenal Kesatuan wujud dan menyadari keberdampingan dan keberkumpulan aspek – aspek yang berlawanan (Transendensi/Keberjauhan dan Imanens/Keberdekatan),maka seseorang membutuhkan metode spiritual.Pada agama Islam metode yang diteladani adalah Nabi Muhammad SAW.

Metode adalah kimia spiritual.Melalui transformasi substansi jiwa berubah. Zat cair dalam gelas menjadi tembus pandang sedemikian hingga wadah dan isi jadi satu.Pengetahuan tanpa amal adalah sia-sia,namun penting dipahami bahwa amal atau praktik/metode tidak pernah sama untuk setiap orang sedangkan doktrin selalu sama.

Pada hakikatnya gagasan Ilahi tentang nabi terakhir;Muhammad SAW,mendahului nabi pertama:Adam AS,karena suatu pemikiran dituntaskan lebih dahulu sebelum diaktualisasikan.Karena Tuhan adalah tidak terhingga,maka Pengetahuan Diri-Nya adalah bagian dari Ketidak Terhinggan-Nya.Menjadi tak terhingga dan mutlak.yang memuat segala kemungkinan.

Tujuan pengetahuan adalah Diri,karena Diri adalah Tuhan yang mewujud
dalam bentuk.

Asal usul jiwa adalah alam spiritual.Ketika ia melekat pada raga,ia turun dari alam cahaya kealam kegelapan,gelap karena jaraknya yang jauh dari Sumber.Jika raga dengan hasratnya lebih kuat,maka jiwa menjadi berat,lebih pada kebendaan,padat dan buram.Namun jika jiwa sadar akan keterpenjaraannya maka ia akan mulai melakukan pencarian.Ia harus mampu mengangkat dan membebaskan dirinya kembali ketempat darimana ia berasal,untuk kembali keAsal-Usulnya untuk kembali menyatu dengan cahaya Kesatuan.Untuk melakukan hal tersebut dibutuhkan daya-daya spiritual dan Pengetahuan Diri.”Siapa yang ingat akan dirinya maka ia akan mengenal Tuhannya” Dari hal ini diri akan  mengungkapkan ,dari mana,mengapa dan hendak kemana.

Ibn Sina berkata,
"Ketahuilah,bahwa jalan masuk yang dengannya jiwa untuk mengetahui,diawali dengan melalui jalan indera;yang dapat dilihat,diraba,didengar,dirasa,;.tanpa pengetahuan tentang hal tersebut maka pengetahuan tidak dapat kita jangkau".

Tahapan untuk bangkit dimulai dengan menyadari keperiadan akan nafsu ‘yang memerintah/Nafs amarah,tahap selanjutnya menyadari akan ketidak sempurnaan diri/Nafs Lawwamah,.dengan menyadari hal tersebut hingga mampu mencapai tahap kedamaian spiritual/Nafs Muthmainnah.,nafsu yang penuh ketenangan.kedamaian dalam keyakinan dan kepastian.

Perjalanan menuju Kesatuan dimulai degan membangkitkan bahwa alam fenomenal ini adalah selubung yang menyelubungi dan menutupi Tuhan.Kita mulai dengan menyingkap selubung tersebut,dan harus sadar bahwa selubung dan Tuhan adalah satu dan sama.Selubung tersebut tidak lain adalah perwujudan nama-nama Tuhan.Ketika kita melihat selubung,sebenarnya kita tidak melihat apa-apa kecuali Tuhan semata.

Kita sebenarnya tiada,karena sesungguhnya Tuhanlah yang ada.
Tuhan adalah satu,dan tak ada satupun disisi-Nya.

Memasuki dan melaluiperjalanan spiritual,membawa seseorang pada situasi dikotomis.,karena pada saat yang bersamaan dirinya terbuka terhadap segala bahaya dan resiko selama perjalanan/pencarian.Dalam mitos tradisional bahaya ini dilukiskan sebagai setan atau iblis yang berusaha menyesatkan.

Jin adalah kekuatan-kekuatan psikis alam yang muncul sebagai substansi atau zatzat yang sensible/dapat di indera serta intelijibel/dapat dipahami. Manusia diciptakan dari tanah liat Malaikat dari cahaya Jin diciptakan dari gas tak berasap/uap.Jin boleh jadi laki-laki atau perempuan dan mereka hidupsecara kolektif/berkelompok dan punya pimpinan tertinggi.Semua aktifitas mereka berlangsung malam hari,dan jin lah yang menyebabkan rasa sakit baik fisik ataupun mental.

Ibnu ‘Araby menggambarkan susunan alam raya yang saling berhubungan dan berkesesuaian yang mengaitkan antara makrokosmos dan mikrokosmos.
"Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah menciptakan tujuh langit bertingkattingkat, dan Allah menciptakan padanya bulan sebagai cahaya dan menjadikan matahari sebagi pelita.Dan demikian pula Dia menciptakn Ruh dalam tubuh manusia untuk memberikan cahaya kepada tubuh.,Sehingga ketika Ruh berpisah dengan tubuh/kematian,tubuh menjadi gelap,seperti bumi menjadi gelap ketika matahari tidak ada.Kemudian Dia menciptakan Akal,seperti bulan yang bersinar dalam kegelapan langit.Suatu saat bulan purnama dan suatu saat lainnya bulan sabit.Pada awalnya ia kecil,yaitu bulan baru,persis seperti inteljensi manusia yang masih rendah ketika kanak-kanak,tetapi bertambah seperti bulan menambah sinarnya hingga purnama penuh dan sesudahnya ia mulai menurun.Kemudian Dia menciptakan lima bintang,(Merkurius,Venus,Yupiter,Mars dan Saturnus);maksudnyabintangbintang dengan gerak mundur yang masing-masing berkesesuaina dengan tiap tiap panca indera yaitu peraba,perasa,penglihatan,penciuman dan pendengaran.”

Kemudian di alam langit Dia menciptakan Singgasana dan Alas.Singgasana yang diadakan dan diciptakan-Nya adalah sesuatu yang kepadanya hati para hamba-Nya tertuju,suatu tempat yang kepadanya mereka menadahkan tangan,.Betapa Maha Tingginya Dia;-Singgasana/tempat duduk hanyalah sebutan-sebutan yang berkaitan dengan zat dan esensi-Nya.Sedangkan singgasana adalah salah satu yang diciptakan- Nya.Dia tidak melekat pada Zat-Nya,tidak menyentuhnya.Dia tidak dilahirkandengannya dan dia tidak butuh terhadapnya.Tentang Alas,ia adalah gudang bagi rahasia-rahasia-Nya,pundit-pundi untuk mewadahi cahaya-Nya,bumi dan langit adalah tempat menyimpan semua yang berada didalam lingkaran Alas-Nya yang maha menyebar luas.Maka Dia menciptakan rongga dada manusia sebagai Alas,karena didalamnya tersimpan semua pencapain dan perolehan pengetahuan.Ia berperan sebagai taman di gerbang hati dan jiwa,dengan dua pintu yang terbuka kepadanya,sehingga semua yang baik yang muncul dari hati,atau yang jahat yang muncul dari jiwa,disimpan didalam dada yang kemudian darinya bergeraklahkeanggota produktif tubuh.

Hati yang ditetapkan-Nya sebagai singgasana.Singgasana-Nya dilangit adalah sesuatu yang diketahui,sedang Singgasana-Nya dibumi adalah penginapan,dan dengan demikian singgasan hati lebih mulia daripada Singasana langit,karena singgasana dilangit tidak cukup luas bagi-Nya,tidak sanggup memuat-Nya,tidak memahami- Nya,.Singgasana hati adalah sesuatu yang terhadapnya Dia setiap waktu dapat melihatnya,kepadanya Dia menyingkapkan diri-nya,karena Dia telah bersabda:”Langit-langit-Ku tidak cukup luas menampung-Ku,tidak pula bumi-Ku,tetapi hati hamba-Ku yang berimanlah yang dapat mewadahi-Ku”.
(Ibn ‘Arabi,Syajarat al kawn)

Catatan:
Pengetahuan tentang Ketuhanan adalah pengetahuan yang relatif.Tidak baku pada pengertian yang mutlak.Tetapi wujud dari pengetahuan tentang itu adalah mempercayai adanya suatu wujud Zat yang Mutlak yang tidak dapat diraba dan di cerna oleh Bahkan pengetahuan itupun adalah hijab terbesar untuk mengenal-Nya.Dia hanya dapat di raba oleh perasaan yang paling murni dan hakiki.

Betapa banyak ungkapan dan pujian para sufi yang terkadang diluar nalar akal,bahkan seakan-akan mereka melontarkan ungkapan yang bernada sesat menurut pandangan kaum awam.,tetapi itu adalah histerisme dan jeritan perasaan yang hanya mereka sendiri yang bisa merasakannya..Subhanallah...sungguh beruntung mereka yang diberi perasaan seperti itu..


Category: Tasawuf dan Sufisme | Views: 1070 | Added by: dash | Rating: 0.0/0
Total comments: 0
Nama *:
Email:
Code *: