Selasa, 22 Agust 2017, 8:48:41
Main » 2013 » Maret » 6 » RITUAL BASAPA DI MINANGKABAU
11:39:09
RITUAL BASAPA DI MINANGKABAU

Basapa adalah sebuah ritual dalam bentuk ziarah secara serentak ke makam Syaikh Burhanuddin di Padang Sigalundi Ulakan.

Meskipun Syaikh Burhanuddin Ulakan adalah tokoh ulama tarekat Syattariyyah, tetapi dalam acara basapa ini, mereka yang hadir tidak terdiri dari penganut tarekat Syattariyyah saja, melainkan juga masyarakat Muslim pada umumnya.

Ritual basapa ini dilakukan untuk menghormati Syaikh Burhanuddin Ulakan yang dianggap telah berjasa dalam penyebaran tarekat Syattariyyah khususnya, dan Islam pada umumnya. Dalam setiap tahunnya, ziarah bersama ini dilakukan pada hari Rabu setelah tanggal 10 Safar, dan oleh karena jatuh pada bulan Safar inilah ritual tersebut dinamakan basapa (bersafar). Penentuan acara basapa setelah tanggal 10 Safar sendiri berkaitan dengan hari yang diyakini sebagai tanggal wafatnya Syaikh Burhanuddin Ulakan, yaitu 10 Safar 1111 H/1691 M.

Menurut beberapa sumber lokal, ritual basapa mulai dilakukan oleh para pengikut Syaikh Burhanuddin Ulakan pada sekitar tahun 1316 H/1897 M. Sebelumnya, ziarah ke makam Syaikh Burhanuddin Ulakan dilakukan pada waktu yang tidak ditentukan. Dalam naskah Inilah Sejarah Ringkas Auliyaullah al-Salihin Syaikh Burhanuddin Ulakan yang Mengembangkan Agama Islam di Daerah Minangkabau misalnya, diceritakan:

"…Adapun dahulunya, yaitu sebelum tahun 1316 H, orang datang berziarah ke makam Ulakan tidak bertentukan bulan dan harinya, malahan menurut kemauan satu-satu negeri saja dengan ulamanya, ada yang di bulan Rabi’ al-Awwal, ada yang di bulan Rabi’ al-Akhir, ada yang di bulan Rajab, di bulan Sya’ban, di bulan Ramadlan, di bulan Syawwal, di bulan Zu al-Qa’dah, dan di bulan Zu al-Hijjah…” (h. 113).

Kemudian, dua orang ulama pewaris ajaran Syaikh Burhanuddin Ulakan, yakni Syaikh Kepala Koto Pauh Kambar dan Syaikh Tuanku Kataping Tujuh Koto di Kalampayan Ampalu Tinggi mengambil inisiatif untuk bermusyawarah dengan sejumlah ulama tarekat Syattariyyah lainnya untuk merumuskan dan menentukan waktu ziarah bersama ke makam Syaikh Burhanuddin Ulakan.

Dan dalam sebuah pertemuan yang berlangsung di Ulakan, Syaikh Kepala Koto Pauh Kambar menjelaskan bahwa jika ziarah ke makam Syaikh Burhanuddin di Ulakan dapat dilaksanakan dalam waktu yang bersamaan, maka banyak hal yang dapat dilakukan secara bersamaan, antara lain adalah membicarakan berbagai persoalan keagamaan di kalangan penganut tarekat Syattariyyah, seperti penentuan awal bulan Ramadan dan hari raya Idul Fitri.

Akhirnya, dalam pertemuan itu pula diputuskan bahwa ziarah ke makam Syaikh Burhanuddin Ulakan akan dilaksanakan secara rutin pada setiap hari Rabu setelah tanggal 10 Safar:

"…Kemudian, sepakatlah kerapatan untuk menetapkan ziarah bersama itu sekali setahun ke makam Syaikh Burhanuddin, disatukan bulannya dan harinya, yaitu hari Arba’ sesudah sepuluh Safar.…Maka dimulailah ziarah bersama itu yang pertama kalinya pada hari Arba’ 16 Safar tahun 1316 H…” (h. 116).

Semenjak itu, basapa menjadi ritual rutin tahunan yang tak pernah terlewatkan oleh para penganut tarekat Syattariyyah, karena bagi mereka, basapa menjadi bagian tak terpisahkan dari ritual tarekat Syattariyyah itu sendiri. Dan dalam perkembangannya kemudian, basapa tidak hanya dihadiri oleh para penganut tarekat Syattariyyah dari Sumatra Barat saja, melainkan juga dari berbagai wilayah lain seperti Jambi, Palembang, Riau, Sumatra Utara, bahkan dari negeri jiran, seperti Malaysia.

Bagi sebagian pengikut Syattariyyah yang fanatik, basapa bahkan dijadikan sebagai ritus wajib, karena mereka meyakini —meskipun hal ini juga ditentang oleh sebagian ulama tarekat Syattariyyah lain— bahwa ritus ini dapat menggantikan pahala naik haji ke Tanah Suci Makkah.

Dalam pelaksanaannya sendiri, ritual basapa umumnya diisi dengan tiga kegiatan utama, yaitu: pertama, ziarah dan berdoa di makam Syaikh Burhanuddin Ulakan; kedua, salat, baik salat wajib maupun sunnat; dan ketiga, zikir. Tetapi tidak sedikit pula yang mengisi —terutama pada hari-hari terakhir— ritual basapa ini dengan upacara menyendiri ke hutan-hutan dan ke bukit-bukit sunyi pada hari Rabu di akhir bulan Safar itu.

Pada waktu itu mereka meninggalkan rumah atau tempat masing-masing, pergi ke hutan-hutan atau ke bukit-bukit sunyi untuk melaksanakan hajat-hajat tertentu sesuai dengan apa yang diajarkan sang guru kepada mereka.

Kendati pada awalnya dimaksudkan untuk beribadah semata, akan tetapi, bagi sebagian kalangan, beberapa praktek ritual yang dilakukan oleh para pengikut tarekat Syattariyyah ketika melakukan basapa ini dianggap sudah berlebihan dan tidak sesuai dengan ajaran Islam.

Di antara ritual yang banyak mengundang kritik tersebut adalah: sesajen yang ditaruh di atas kuburan, salat di atas kuburan, menjadikan air yang sudah ditaruh di atas kuburan sebagai obat yang dapat menyembuhkan, salat sunat "Burha”, dan beberapa lainnya.

Di tengah pro-kontra tersebut, pelaksanaan basapa sendiri hingga kini tetap berlangsung, bahkan dilakukan di bawah koordinasi pemerintah daerah Padang Pariaman. Dalam konteks Sumatra Barat ini, basapa tampaknya telah menjadi bagian dari bentuk keberagamaan lokal yang tidak akan mudah hilang, karena nilai-nilainya telah mengakar dalam kultur sebagian masyarakatnya, khususnya masyarakat penganut tarekatnya Syaikh Burhanuddin Ulakan itu.

Bagi para pengikut tarekat Syattariyyah di Sumatra Barat sendiri, basapa telah menjadi semacam medium untuk mengekspresikan ritual tarekat mereka, sehingga karenanya, menjadi bagian tak terpisahkan dari keseluruhan corak keberagamaannya.

Dalam perkembangannya kini, ritual basapa ternyata tidak hanya dilaksanakan di makamnya Syaikh Burhanuddin Ulakan saja, melainkan juga di beberapa makam guru tarekat lain yang memiliki pengaruh besar semasa hidupnya.

Para penganut tarekat Syattariyyah di daerah Taluk, Lintau Buo, Tanah Datar, misalnya, pada setiap tahunnya melaksanakan pergi bersafar (basapa) ke makam Syaikh Tuanku Kalumbuk, yang merupakan khalifah tarekat Syattariyyah di wilayah Taluk. Basapa "lokal” tersebut biasanya dilaksanakan pada hari selasa malam di bulan Safar, seminggu setelah pelaksanaan "Safar Gadang” di makam Syaikh Burhanuddin Ulakan.

Category: Minangkabau | Views: 2173 | Added by: dash | Rating: 0.0/0
Total comments: 0
Nama *:
Email:
Code *: