Minggu, 25 Jun 2017, 9:27:30
Main » 2013 » Februari » 16 » SYEIKH AKBAR IBN -AL 'ARABI
3:37:34
SYEIKH AKBAR IBN -AL 'ARABI
Biodata Ringkas
Pada tanggal 17 Ramadan tahun 560 H bersamaan dengan 1165 M di daerah Mursiyah bahagian utara Andalusia, sebuah keluarga keturunan Arab yang termasuk dalam kabilah Ta’i, lahirlah seorang bayi yang diberinama oleh keluarganya dengan Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Ahamad bin Abdullah al-Hatimi al-Ta’i al- Andalusi4 yang kemudian dikenal dengan Ibn ‘Arabi.
 
Dibahagian Timur beliau di kenal dengan nama al-Hatimi dan Ibn ‘Arabi sedangkan di belahan Barat dikenal dengan Ibn al-‘Arabi. Lain halnya di tanah kelahirannya beliau lebih dikenal dengan panggilan Ibn Suraqah Ayah Ibn ‘Arabi merupakan seorang yang terpandang dalam masyarakat,dan merupakan opini lider, beliau pernah menjabat posisi penting (wazir) di Andalusia, disamping itu, matang dalam bidang fiqh, hadits dan seorang yang zuhud serta sufi .
 
Beliau juga banyak bergaul dengan Abu al-Walid Ibn Rusydi seorang filosof terkenal di Andalusia.Sementara dalam masalah sufi beliau banyak bergaul dengan Muhyi al- Din Abd. Qadir Jailani. Dengan demikian Ibn ‘Arabi hidup dalam lingkungan keluarga yang mempunyai status sosial yang baik.
 
Ibunya adalah Nurul Anshariyah. Sungguh ibunda agung ini, menyusui putranya dengan air susu taqwa, menyuapinya dengan suapan mahabbah, mendidikknya lahir dan batin, hingga mencapai karakter dimana jiwa ibunda telah berpisah dari kemanusiaan menuju karakter uluhiyah. Suatu ketika, sufi besar Fathimah dari Kordoba berkata kepadanya, "Wahai Nurul Anshariyah, anakmu ini, adalah "ayahmu", didiklah dengan baik dan jangan kau batasi." Ibunda Ibnu 'Araby tidak terkejut dengan kata-kata itu, dan ia terima dengan penerimaan yang baik.
 
Pada tahun 568 H keluarganya pindah dari Marsia ke Isybilia. Maka di kota baru ini, terjadi transformasi pengetahuan dan kepribadian Ibnu 'Araby. kepribadian sufi, intelektualisme filosufis, fiqh dan sastra. Karena itu kelak, selain sebagai filsuf sufi, Ibnu 'Araby juga dikenal sebagai ahli tafsir, hadist, fiqh, sastra dan filsafat, bahkan astrolog dan kosmolog.

Ibnu 'Araby belajar al-Qur'an dengan qira'at sab'ah dari beberapa guru seperti: Abu Bakr bin Muhammad bin Khalaf al-Lakhmy; Abul Qasim asy-Syarrath dan dari Ahmad bin Abi Hamzah. Sementara untuk mendalami bidang fiqh dan hadist ia menekuni fiqh mazhab Ibnu Hazm adz-Dzahiry dan mazhab Imam Malik, pada beberapa guru seperti Ali bin Muhamamd ibnul Haq al-Isybili, Ibnu Zarqun al-Anshary dan Abdul Mun'im al-Khazrajy.

Dalam majelis-majelis lainnya, ia tak pernah ketinggalan menekuni suatu kitab kecuali membaca keseluruhan. "Aku mempelajari kitab-kitab antara lain, al-Imta' wal-Mu'anasah karya Abu Hayyan at-Tauhidy, kitab Al-Mujalasah karya Dinawari, kitab Bahjatul Asrar, karya Imam Ibnu Jahadhah, kitab Al-Mubtada' karya Ishaq bin Bisyr, kitab Dalailun Nubuwwah, karya Ibnu Nu'aim, kitab As-Sirah karya Ibnu Hisyam, kitab Shafwatus Shafwah karya Ibnul Jauzy, Musnad asy-Syihab karya Ibnu Salamah al-Qadha'y, Al-Musnad karya al-Azraqy, Al-Musnad, karya Ibnu Hanbal, As-Sunan, karya Sijistany, Shahih Muslim, al-Bukhari, dan At-Tirmidzy..."

Toh dari sekian Imam dan kitab itu, Ibnu 'Araby tidak bertaklid sama sekali pada mereka. Ia termasuk tokoh yang (karena kapasitas ijtihadnya) menolak taklid. Bahkan ia membangun metodologi yang orisinal dalam menafsirkan al-Qur'an dan Sunnah yang berbeda dengan metode yang ditempuh para pendahulunya. Hampir seluruh penafsirannya diwarnai dengan penafsiran teosofik yang sangat cemerlang. "Kami menempuh metode pemahaman kalimat-kalimat yang ada itu. Dimana hati kami kosong dari kontemplasi pemikiran, dan kami bermajelis dengan Allah di atas hamparan adab, muraqabah, hudhur dan bersedia diri untuk menerima apa yang datang pada kami dari-Nya, sehingga Al-Haqq benar-benar melimpahkan ajaran bagi kami untuk membuka tirai dan hakikat.... dan semoga Allah memberikan pengetahuan kepada kalian semua..." Demikian kata Ibnu 'Araby.

THARIQAT KEPADA ALLAH SWT.
Pada akhirnya, Ibnu 'Araby menempuh jalan halaqah sufi dari beberapa Syeikhnya. Sebagaimana diakuinya dalam kitabnya yang paling monumental Al-Futuhatul Makkiyah, ia mendalami dunia sufi dari beberapa syeikh yang memiliki disiplin spiritual yang beragam. Ibnu 'Araby pergi dari satu tempat ke tempat lainnya, meninggalkan keinginan duniawi dan kenikmatannya. Ia menemui para tokoh yang benar-benar jujur menepati janji Allah, yang tidak dialpakan oleh bisnis dan jual beli, hingga lalai dzikir kepada Allah. Ibnu 'Arabi berdzikir dan menghayati seluruh wirid mereka, hingga ruhnya meyangga ke atas derajat iluminasi dan emanasi yang kemudian melahirkan imajinasi yang dahsyat dalam dirinya, terurai dalam ratusan karyanya.

Usia 20 tahun, usia remaja penuh gejolak. Tapi Ibnu 'Araby telah matang dalam kepribadian intelektual dan moralnya. Usia inilah Ibnu 'Araby telah menjadi sufi. Ia berkata:

"Thariqat sufi ini dibangun di atas empat cabang: Bawa'its (instrumen yang membangkitkan jiwa spiritual); Dawa'i (pilar pendorong ruhani jiwa); Akhlaq dan Hakikat-hakikat. Sedangkan pendorong itu ada tiga hak: hak Allah, adalah hak untuk disembah oleh hamba-Nya dan tidak dimusyriki sedikitpun. Hak hamba terhadap sesamanya, yakni hak untuk mencegah derita terhadap sesama, dan menciptakan kebajikan pada mereka. Dan (terakhir) hak hamba terhadap diri sendiri, yaitu menempuh jalan (thariqat) yang didalamnya kebahagiaan dan keselamatannya."

Pada hak Allah (pertama) bisa dilacak secara sempurna pada seluruh karya Ibnu 'Araby. Dimana tauhid dijadikan sebagai konsumsi, iman sebagai cahaya hati, al-Qur'an sebagai akhlaknya. Kemudian naik ke tahap, dimana tak ada lagi selain al-Haqq (Allah swt.) Karakter Ibnu 'Araby senantiasa naik dan naik ke wilayah yang luhur, rahasianya senantiasa bertambah rindu, dan hatinya jernih semata hanya bagi al-Haqq, rahasia batinnya bermukim menyertai-Nya tak ada yang lain yang menyibukkan dirinya kecuali Tuhannya.

Ibnu 'Araby menggunakan kendaraan mahabbah, bermazhab ma'rifah, dan berwushul tauhid. Ubudiyah dan iman satu-satunya hanyalah kepada Allah Yang Esa dan Maha Kuasa, Yang Suci dari pertemanan dan peranakan. Raja tanpa tanding, Pencipta dan Pengatur, Maujud dengan Dzat-Nya tanpa butuh pada pewujud-Nya. Bahkan seluruh yang wujud membutuhkan-Nya. Seluruh alam semesta wujud karena Wujud-Nya, dan hanyalah Dia yang berhak disifati sebagai Wujud. Yaitu Wujud Mutlak dengan sendiri-Nya tanpa batas. Dia bukan inti atom, bukan jasad, bukan arah dan suci dari dimensi, arah dan wilayah. Namun bisa dilihat oleh hati dan mata hati.

Sementara hak sesama makhluk, ia mengambil jalan taubat dan mujahadah jiwa, serta lari kepada-Nya. Ia gelisah manakala terjadi lowong atas tindakan kebajikan yang diberikan Allah, sebagai jalan mahabbah dan mencari ridha-Nya. Hak ini bersumber pada ungkapan ruhani dimana semesta alam yang ada di hadapannya merupakan penampilan al-Haqq. Seluruh semesta ini bertasbih pada Sang Khaliq, dan menyaksikan kebesaran-Nya, dan semuanya merupakan limpahan dari organisasi Ilahi.

Sementara hak terhadap diri sendiri adalah menempuh kewajiban agar sampai pada tingkah laku ruhani dengan cara berakhlak yang dilandaskan pada sifat-sifat al-Haqq, dan upaya penyucian dalam taman Dzat-Nya.

Semua ini tidak bisa ditempuh kecuali melalui bimbingan dan pendidikan dari para Syeikh yang kamil, dimana mereka mampu membukakan pintu-pintu cakrawala pencerahan yang luhur dalam perjalanan ruhaninya.

KONTROVERSI SEPUTAR KARYA-KARYANYA
Pandangan-pandangan filsafat tasawuf Ibnu 'Araby dinilai oleh beberapa pihak, teruatama kaum fuqaha' dan ahli hadist sangat kontroversial. Sebab, teorinya tentang Wahdatul Wujud dianggap condong pada pantheisme. Hal ini disebabkan seluruh karya-karya Ibnu 'Araby, meggunakan bahasa simbolik, sehingga kalangan awam dan kaum tekstualis sangat kebingungan. Bahkan tidak sedikit yang mengganggap murtad dan kufur pada Ibnu 'Araby. Tak kurang, misalnya Syeikhul Islam Ibnu Taymiyah, dan pengikutnya. Tetapi pada akhirnya, Ibnu Taimiyah menerima pandangan Ibnu 'Araby setelah bertemu dengan Taqyuddin Ibnu Athaillah as-Sakandari asy-Syadzily di sebuah masjid di Kairo, yang menjelaskan makna-makna metafora Ibnu 'Araby. "Kalau begitu yang sesat itu adalah pandangan pengikut Ibnu 'Araby yang tidak memahami makna sebenarnya," kata Ibnu Taimiyah.

Ketersesatan memahami Ibnu 'Araby juga berkembang di Jawa, ketika secara aliran kebatinan Jawa singkretik dengan Tasawuf Ibnu 'Araby. Diskursus Manunggaling Kawula Gusti telah membuat penafsiran yang menyesatkan di kebatinan Jawa, yang sama sekali tidak pantas untuk dikaitkan dengan Wahdatul Wujud-nya Ibnu 'Araby. Bahkan di jawa sudah melesat ke arah kepentingan jargon politik yang menindas atas nama Tuhan.

Untuk memahami karya-karya dan wacana Ibnu 'Araby, haruslah disertai thariqat yang penuh, komprehensif dan iluminatif. Karena itu, harus pula membaca kitab-kitab tasawuf lainnya, dan kemudian syarah atas karya-karyanya. Dr. Su'ad al-Hakim mengkorkordansi sejumlah istilah filsafat tasawuf yang secara orisinal muncul dari Ibnu 'Araby. Ada ratusan istilah baru yang diilhami oleh terminologi Qur'any dan Sunnah Nabawi. Dr. Abdullah Afifi, murid RA. Nicholson, membuat syarah yang berharga atas karyanya yang paling sulit, Fushushul Hikam. Dan Dr. Mahmud Mathrajy memberi pengantar panjang dan catatan kaki pada karya monumentalnya, Al-Futuhatul Makkiyah. Namun Mathrajy juga sedikit terjebak oleh pendapat orientalis, terutama penilainnya sebagai Pantheisme.

Karya-karya Ibnu 'Araby masih asing di Indonesia, termasuk dunia pesantren belum memperkenalkan karya-karya sufi besar ini. Menurut peniltian para ulama dan juga orientalis, karya Ibnu Araby berjumlah sekitar 560 kitab lebih. Bahkan ada yang meniliti, termasuk risalah-risalah kecilnya, mencapai 2000 judul. Kitab tafsirnya yang terkenal adalah Tafsir al-Kabir terdiri 90 jilid. dan karya ensiklopediknya tentang penafsiran sufistik, yang paling masyhur adalah Futuhatul Makkiyah (8 jilid), dan disusul pula dengan Futuhatul Madaniyah. Selain itu, karya yang paling sulit dan penuh metaforal adalah Fushushul Hikam. Dan sesungguhnya untuk sekadar menghantar pemikiran Ibnu 'Araby, membutuhkan satu juta halaman lebih, atas karya-karyanya
 
Luasnya ilmu pengetahuan yang dimiliki, ditambah pula dengan ketekunan dan kesungguhannya menuangkan dalam bentuk tulisan, lahirlah buah karya Ibn Arabi. Cukup banyak hasil karya Ibn ‘Arabi, diantara karya utamanya adalah al- Futuhat al-Makkiyah yang mengandung 560 bab. Kitab ini disusun dengan memakan waktu yang cukup lama, mulai ditulis pada tahun 599 H dan baru dapat diselesaikan setelah beliau tinggal dan menetap di Damsik (620H-638 H).
 
Isi kandungan kitab ini pada umumnya memperbincangkan prinsip-prinsip metafisik serta berbagai permasalahan tasauf disamping berbagai pengalaman relegius yang dialami Ibnu ‘Arabi.Kitab Fusus al-Hikam juga merupakan buah karya Ibn ‘Arabi yang cukup dikenal, kitab ini selesai ditulis pada tahun 628 H, ketika beliau berada di Damsik. Sekalipun kitab ini tidak setebal kitab al-Futuhat al-Makkiyah, namun dianggap sebagai puncak kematangan Ibn ‘Arabi dalam bidang penulisan. Di dalam kitab ini terkandung kesempurnaan alirannya yang telah di bincangkan dalam tulisan-tulisannya yang lain . Sama halnya dengan kitab al- Futuhat al-Makkiyah, kitab Fusus al-Hikam ini juga disiapkan di Damsyiq sekitar tahun 628 H.
 
Selain dua kitab tersebut masih banyak lagi buah karya Ibn ‘Arabi, seperti kitab Mawaqi’ al-Nujum wa Matali Ahillah wa al-‘Ulum, kitab Insya’al-Dawa’ir, kitab Tarjuman al-Asywaq, Kitab Misykat al-Anwar, kitab Hilyat al-Abdal , kitab Taj al-Rasa’il, kitab Ruh al-Quda fi Munasahat al-Nafs, kitab al-Tanazulat al- Mawasiliyah, kitab al-Zakha’ir al-Akhlaq, kitab al-Diwan al-Akhbar dan banyak lagi kitab-kitab yang menjadi buah karya Ibn Arabi.
 
Problem Wihdah al-Wujud
Keintelektualan Ibn ‘Arabi tidak diragukan lagi, hal ini ditandai dengan banyaknya karya-karya yang dihasilkannya. Dari sejumlah buah karya yang dilahirkannya, terdapat suatu pendapat atau faham yang cukup menggegerkan dikalangan ulama sehingga menimbulkan polimik di kalangan masyarakat, karena dianggap melenceng dari ajaran Islam, khususnya dikalangan masyarakat awam yang sememangnya awam dalam masalah tersebut. Pro dan kontra dikalangan ulama tidak dapat dielakkan lagi. Persoalan yang dimunculkan oleh Ibn ‘Arabi adalah persoalan Wihdah al-Wujud. Dengan penuh percaya diri beliau mengemukakan pendapat tersebut, dan tetap bertahan dengan pendapatnya, walapun persoalan ini menimbulkan permasalahan besar dikalangan masyarakat sekaligus membuka tuduhan-tuduhan negatif terhadap dirinya.
 
Kontraversi pun terjadi dikalangan ulama, sebagaian ulama menerima faham tersebut dan sebagian lagi mengkritik serta mecela dengan keras. Bagi Ulama yang menerima bahkan setuju dengan pendapat tersebut menganggap Ibn ‘Arabi sebagai seorang wali dan pemimpin orang-orang yang salih. Mereka sedaya upaya memberikan pembelaan dan mempertahankan pendapat Ibn ‘Arabi ini dari tuduhantuduhan miring serta serangan serangan lawan.
 
Diantara ulama yang cukup kuat memberikan pembelaan kepada pendapat Ibn Arabi ini adalah Majd al-Din al-Fairuzabadi, beliau merupakan salah seorang yang pernah menjadi Qadhi di Yaman. Selain beliau, banyak lagi ulama-ulama yang menyokong pendapat tersebut seperti Solah al-Din al-Safdi, Qutb al-Din al-Hamawi, Siraj al-Din al-Makhzumi, Kamal al-Din al-Zamalkani , Qutb al-Din al-Syirazi, Jalal al-Din al-Syuyuti, dan juga Ahmad bin Muhammad bin Abd Karim yang juga dikenal dengan Ibn Ata’ Allah al Sakandari, beliau ini merupakan ulama fiqh dari mazhab Maliki, namun begitu beliau juga menghasilkan beberapa kitab tasauf Kesemua ulama-ulama tersebut merupakan ulama yang mempertahankan pendapat Ibn ‘Arabi melalui tulisan yang di tuangkan dalam buku-buku mereka. Siraj al-Din al- Makhzumi umpamanya, mengekspresikannya dalam kitab Kasyf al-Ghita’ ‘an Asrar Kalam al-Suaikh Muhyi al-Din. Al-Syuyuti pula memberikan pembelaannya melalui kitab Tanbih al-Ghabi fi Tabri’ah Ibn ‘Arabi.
 
Namun demikian ada pula diantara ulama yang mengambil sikap tawaquf, artinya mereka tidak mengadakan pembelaan dan tidak pula mengkritiknya. Ulama yang mengambil sikap seperti ini berharap agar persoalan ini tidak semakin memperkeruh suasana serta memperuncing masalah sehingga dikhawatirkan akan menimbulkan perpecahan dikalangan umat Islam itu sendiri. Diantara ulama yang bersikap demikian adalah Syaraf al-Din al-Manyawi.
 
Aliran Tafsir Ibn ‘Arabi. Terdapat beberapa kitab yang bisa ditelusuri untuk mengetahui aliran Tafsir Ibn ‘Arabi, diantaranya adalah Fusus al-Hikam, Futuhat al-Makkiyah dan juga I’jaz al-Bayan. Khusus terhadap tulisan beliau yang terakhir ini masih berbentuk manuskrip, dan sukar diperoleh, manuskrip ini hanya ditemui satu salinan saja di Kamulibaba dekat Masjid al-Sultan Ahmad di Turki. Menurut al-Lusi, ia telah menemukan manuskrip tersebut dan kemudian memindahkannya ke dalam kitab Ruh al-Ma’ani yaitu kitab tafsir yang dikarangnya. Oleh sebeb itu kalau ingin meneliti aliran tafsir Ibn Arabi tersebut hanya dapat diperoleh dari kitab Futuhat al-Makkiyah dan Fusus al-Hikam saja.
 
Ketokohan Ibn ‘Arabi dalam bidang Sufi, memberikan pengaruh dalam pentafsiran ayat al-Qur'an, hal ini terlihat dalam kitab al-Futuhat al- Makkiyah dan juga dalam kitab Fusus al-Hikam, terutama sekali ketika beliau menggunakan metode al-Nazari al- Falsafati. Suatu contoh dapat dilihat ketika beliau mentafsirkan ayat 80 surah al- Nisa’berikut ini:
 
ﺎًﻈﯿِﻔَﺣ ْﻢِﻬْﯿَﻠَﻋ َكﺎَﻨْﻠَﺳْرَأ ﺎَﻤَﻓ ﻰﱠﻟَﻮَﺗ ْﻦَﻣَو َﻪﱠﻠﻟا َعﺎَﻃَأ ْﺪَﻘَﻓ َلﻮُﺳﱠﺮﻟا ِﻊِﻄُﯾ ْﻦَﻣ
 
Menuurut Ibn Arabi, Ketaatan kepada Rasul berarti ketaatan kepada Allah, sebab Rasul tidak akan berbicara kecuali berasal dari Allah, bahkan tidak akan berbicara kecuali dengan Allah, dan tidak akan berbicara kecuali Allah darinya dan ia adalah merupakan gambaran Allah.Pentafsiaran Ibn Arabi yang sedemikian rupa, tentuanya menampakkan suatu bentuk perbedaan yang jelas dengan bentuk yang dikemukakan oleh mufassir lain, terutama yang berseberangan dengan alirannya, seperti tafsiran yang dikemukakan oleh Zamakhsyari, Tabari, al-Razi dan ulama-ulama tafsir lainnya. Menurut pendapat al-Zamakhsyari ayat di atas menjelaskan ketaatan kepada Rasul dalam melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangannya adalah merupakan suatu ketaatan kepada Allah.
 
Pendapat senada juga disampaikan oleh Ibn Jarir al-Tabari dalam tafsirnya. Dampak dari pentafsiran yang berorientasi kepada sufi, menjadikan pembahasan yang dilakukan oleh Ibn Arabi kurang jelas dan sukar dapat difahami, terutama bagi masyarakat umum, sehingga kurang memberi kesan pada masyarakat banyak. Kalau demikian tentunya kurang memenuhi sasaran maksud pentafsiran. 
 
Pendapat seperti ini juga disampaikan oleh al-Tabari dalam kitab tafsirnya, begitu juga Ibn Katsir dan al- Zamakhsyari. Sedangkan Ibn Arabi mengemukakan pentafsiran yang jauh berbeda dari ulama-ulam tafsir di atas, menurut beliau perkataan sya’air Allah adalah menupakan tanda-tanda yang bisa menyampaikan diri kepada Allah. Sedangkan perkataan bait al- atiq ditafsirkan sebagai rumah iman yaitu hati yang di miliki oleh orang-orang yang beriman
 
Dalam menjelaskan ayat al-Qur'an, Ibn Arabi terkadang mebuat analogi sesuatu yang abstrak dengan sesuatu yang kongkrit ( Qiayas ghaib ‘ala Qiyas Syahid). Carara yang seperti ini dapat dilihat ketika beliau mentafsirkan ayat 4-9 surah al-Rahman berikut ini:
 
ٍنﺎَﺒْﺴُﺤِﺑ ُﺮَﻤَﻘْﻟاَو ُﺲْﻤﱠﺸﻟا ) 5 ( ِناَﺪُﺠْﺴَﯾ ُﺮَﺠﱠﺸﻟاَو ُﻢْﺠﱠﻨﻟاَو ) 6 ( ﺎَﻬَﻌَﻓَر َءﺎَﻤﱠﺴﻟاَو
َناَﺰﯿِﻤْﻟا َﻊَﺿَوَو ) 7 ( ِناَﺰﯿِﻤْﻟ ﻲِﻓ اْﻮَﻐْﻄَﺗ ﺎﱠﻟَأ ) 8 ( َنْزَﻮْﻟا اﻮُﻤﯿِﻗَأَو
ناَﺰﯿِﻤْﻟا اوُﺮِﺴْﺨُﺗ ﺎَﻟَو ِﻂْﺴِﻘْﻟﺎِﺑ
 
َKata Husban(نﺎﺒﺴﺣ) pada ayat 4 ditafsirkan dengan neraca perjalanan cakrawala, sedangkan kata sama’ (ءﺎﻤﺴﻟا ) pada ayat 6 ditafsirkan sebagai paksi timbangan, sementara kata Qisth (ﻂﺴﻗ ) pada ayat 9 diibaratkan sebagai tegaknya kejadian manusia dan manusia dianggap sebagai penunjuk timbangan.
 
 Melihat pada contoh-contoh di atas kelihatanya Ibn ‘Arabi menggunakan metode Isyari dalam mentafsirkan ayat. Menurut Syamsudin Arif, pentafsiran yang dilakukan Ibn Arabi berdasarkan akal fikiran, namun demikian hal tersebut sejalan dengan kitab Allah bukan hawa nafsu, hal ini dikarenakan beliau merupakan seorang yang abid, senantiasa melaksanakan disiplin rohaniayah yang digariskan oleh syara’, serta merupakan seorang yang selalu memohon kepada Allah untuk dibukakan pintu hatinya agar dapat di isi dengan cahaya ilmu dan makna kandung wahyu Ilahi, hal ini beliau lakukan untuk menghindari dari tipu muslihat yang dilakukan Iblis laknatullah.
 
 Melihat cara penggunaan akal yang dilakukan Ibn Arabi berbeda dengan aliran-aliran lain, seperti pendekatan aqliyah gaya Mu’tazilah, atau ahli filsafat dan juga golongan batiniyah, maka banyak dari kelompok aliran pemikiran yang mendukung cara ibn Arabiy dalam memahami ayat-ayat al-Qur'an. Apapun yang dilakukan oleh Ibn ‘Arabi, namun yang jelas dari contoh-contoh di atas dapat dilihat bahwa pentafsiran yang dilakukan Ibn ‘Arabi berbeda dengan mufassir lain, hal ini disebabkan mufassir-mufasir lainnya tidak memakai metode Isyari, tapi hanya memahami dan mentafsirkan ayat berdasarkan kepada makna zahir yang dihubungkan kepada sumber-sumber ma’tsur, tanpa melihart unsur-unsur yang tersirat dibalik suatu perkataan tersebut.
 
Rujukan:
  • A.Ates, Ibn Arabi, dalam The Encyclopedia of Islam, E,J.Brill,(1986), Leiden,juz 3.
  • R.W.J Austin(1971) Intrroduction to Sufis of Andalus, The Ruh al-Quds and Durrat of Ibn Arabi, London.
  • S.A.Q. Husain. (1970) Ibn Arabi, The Great Muslim Msytic and Thinker, Sh. Muhammad Ashraff, Lahore.
  • Surur, Abd. al-Baqir,(tt) Muhyi al-Din bin Arabi, Maktabah al-Khaniji, Mesir.
  • Affifi,Abu al- Ula (1964) The Mystical Philosophy of Muhy al-Din Ibn Arabi, Sh, Muhammad Ashraff, Lahore
  • Al- Say’rani, Abd Wahab, (1321H) al-Yawaqit wa al-Jawahir fi Bayan Aqa’id al- Kabir. Mesir , al-Matba’ah al-Azhariyah al-Misriyyah,juz 1.
  • Ibn Arabi, Futuhat al-Makkiyyah, Dar al- Ikhya’ al-Turats al-Arabi, Beirūt juz 4.
  • Syamsuddin Arif,(2001),Ta’wil dan Tafsir Menurut Ibn Arabi, dalam al-Hikmah. No.9. Bil .2 Tahun ke 7.
  • can rujukn lainnya dengan materi terkait
Category: Tasawuf dan Sufisme | Views: 1853 | Added by: dash | Rating: 0.0/0
Total comments: 0
Nama *:
Email:
Code *: