Selasa, 12 Des 2017, 6:43:24
Main » 2013 » Februari » 14 » Datuk Perpatih nan Sebatang (1)
3:16:15
Datuk Perpatih nan Sebatang (1)
Orang Minangkabau sangat mengenal sekali tokoh yang bernama Datuk Perpatih nan Sebatang ini, ia dimasa kecilnya bernama Sutan Balun. Menurut Tambo, Sutan Balun bukanlah anak raja, ayahnya seorang penasehat raja yang dikenal dengan nama Cati Bilang Pandai.
            Untuk mengenal Sutan Balun, Sejenak kita hendaknya lebih dulu mengenal akan silsilah atau garis keturunan yang bermula dari Maharaja Diraja dan istrinya, Indah Julito. Dikabarkan, Maharaja Diraja mempunyai sepasang anak, seorang lelaki (yang sulung) bernama Suri Dirajo, sedangkan yang perempuan bernama Indah Juliah. Indah Juliah menikah dengan Ruso nan datang dari lauik, makuto nan bacabang tigo (Rusa yang datang dari laut, mahkotanya bercabang tiga). Dan Ruso nan datang dari lauik itu kemudian bergelar Sri Maharaja Diraja. Setelah Dari perkawinan tersebut maka lahirlah Maha rajo Basa, setelah dewasa ia dikenal sebagai Datuk ketumanggungan.
            Setelah Maharaja Diraja wafat, Indah Juliah menikah dengan Cati Bilang Pandai. Mereka melahirkan seorang putra, bernama Sutan Balun, yang kelak dikenal dengan nama Datuk Perpatih nan Sebatang. Dan seorang perempuan bernama Puti Jamilan

            Sebagai putra kedua, dan bukan putra raja, Sutan Balun memang terkesan dalam perhatian dalam kerajaan. Sejak masa kanak-kanak sampai dewasa, Sutan Balun selalu bertengkar, bersilih paham dengan saudaranya, Maha raja Basa atau Datuk Ketumanggungan.
            Layaknya seorang putra raja, Raja Basa (Datuk Ketumanggungan) mempunyai seekor ayam jantan. Ayam jantan tersebut dikurung dalam kerangkeng bambu, diletakkan di halaman Istana. Kadangkala Raja Basa membawa  ke gelanggang penyabungan untuk diadu dengan ayam lain. Ayam jantan kesayangan Raja Basa tidak pernah kalah, selalu menang dalam gelanggang aduan.
            Suatu hari Sutan Balun berjalan-jalan di halaman Istana. Ia tertarik melihat ayam jantan milik Ketumanggungan. Ayam jantan tersebut berputar-putar dalam kerangkeng bambu itu. Dan Sutan Balun menjentik-jentik jemarinya, ayam jago itu mengepakan sayapnya. Lalu Sutan Balun membuka kerangkeng bambu, ia bermaksud hendak melihat lebih dekat ayam jago tersebut.
            Malang tak dapat ditolak, ayam jago Ketumanggungan melompat dari tangan Sutan Balun. Ayam jantan tersebut lepas menghambur, semula hinggap pada pagar. Kemudian berkokok panjang, dan lari ke semak belukar.
            Terperangah Sutan Balun. Tentu Ketumanggungan akan marah padanya, karena ia telah melepaskan ayam jago tersebut. Kebetulan Ketumanggungan keluar dari istana, ia melihat ayam jagonya tidak ada dalam kerangkeng. Seraya saja ia menghardik Sutan Balun, "Balun kau apakan ayamku!”
            Gugup seketika Sutan Balun. Ia merasa bersalah telah melepaskan ayam kesayangan, kakaknya. "Maafkan saya, tuan Tumenggung. Saya tidak sengaja, Biarlahlah saya cari ayam itu,” ujar Sutan Balun.
            Namun Ketumanggungan tetap menerima. Ia memungut sepotong kayu, dan mendadak ia memukul kepala Sutan Balun. Serangan mendadak itu tidak diduga sama sekali oleh Sutan Balun, ia terlambat berkelit sehingga keningnya dihantam potongan kayu itu. Darah bercucuran di kening Sutan Balun.
            Saat itu Indah Juliah, ibu mereka berdiri di teras istana. Perempuan itu segera turun ke halaman, melerai kedua orang anaknya, yang siap hendak berkelahi.
            "Bunda, Sutan Balun sungguh keterlaluan. Ayam jago saya ia lepaskan dari kerangkeng,” Ketumangungan segera mendahului mengadu.
            "Bunda, memang saya bersalah. Saya tidak sengaja melepaskan ayam tuan Tumenggung. Tapi ia telah melukai saya,” ujar Sutan Balun. Ia terus menutup keningnya yang luka, darah bercucuran di sela-sela jarinya.
            Indah Juliah menggelengkan kepala, ia cemas melihat kening Sutan Balun yang terluka. Kemudian perempuan itu menoleh pada Tumenggung, yang berdiri acuh tidak acuh. "Tumenggung…mestinya kamu tidak ringan tangan pada saudaramu sendiri,” Indah Juliah segera membimbing Sutan Balun naik ke istana.

            Konon sejak itu, Sutan Balun selalu kelihatan memakai destar. Destar tersebut dipakainya untuk menutup luka di keningnya. Dan ia jarang kelihatan berada di istana, Sutan Balun lebih suka menyendiri, berjalan ke lembah-lembah, ke pinggir sungai, bahkan duduk sendiri di atas bukit. Akhirnya Sutan Balun menghilang dari istana. Tidak seorang tahu ke mana ia pergi.

BERTAPA DI PUNCAK MERAPI

            Dalam perjalanannya menyendiri, Sutan Balun suatu hari tertidur di bawah pohon beringin yang daunnya rindang. Tidak berapa lama, ia tidur merebahkan diri di bawah pohon beringin itu, Sutan Balun bermimpi, ia didatangi oleh almarhum ayahnya, Cati Bilang Pandai.
            "Anakku, Sutan Balun. Ayahanda tahu kamu sedang sedih dan gelisah. Tapi janganlah engkau turutkan sedih dan gelisah itu. Orang yang selalu sedih dan gelisah, bisa sesat jalan. Oleh karena itu pergilah engkau ke puncak Merapi,” Cati Bilang Pandai berpesan.
            Selesai menerima pesan ayahnya dalam mimpi, Sutan Balun tersentak dari tidurnya. Ia menoleh ke kiri dan kanan, jangan-jangan ayahnya itu masih ada di sekitar itu. Ternyata tidak ada siapa-siapa. "Ayahanda!” Sutan Balun berteriak sekuat suaranya. Namun tidak ada jawaban, kecuali gaung suara teriakannya yang kembali bersiponggang.
            Ketika itu sedang tengah hari, matahari seperti bertengger di atas kepala. Sedang litak-litak anjing berjalan. Panas terik menyiram tubuh Sutan Balun yang melangkah menuju gunung Merapi. Tekad Sutan Balun memang sudah bulat, ia harus mencapai puncak Merapi, dan bertapa di sana sesuai dengan Cati Bilang Pandai, ayahnya itu.
            Memang selama ini Sutan Balun belum pernah naik ke gunung Merapi, hanya mendengar dari mulut ke mulut bahwa di puncak Merapi bersemayam para dewa, disamping itu di sana bertempat tinggal jin dan peri atau makhluk halus. Namun karena ia telah mendapat mimpi dari ayahnya, Sutan Balun tidak peduli. Lagi pula hatinya sedang risau gelisah.”Buat apa saya di istana, kalau hanya akan dilecehkan oleh Tumenggung. Biarlah badan terbuang. Biarlah jin dan setan akan melahap diri ini, dari pada harga diri ini dilecehkan orang,” gumam Sutan Balun seraya mendaki gunung tersebut.
            Sutan Balun berjalan menapaki gunung tersebut. Kadangkala, ia harus memanjat tebing, kadang menuruni lembah. Penat mendaki ia berhenti barang sejenak. Lalu kembali mendaki.
            Suatu ketika, ia duduk melepaskan lelah. Sambil melepaskan lelah, Sutan Balun memeriksa buntalannya, ada dua buah pinyiram dan setabung air, yang tadi disiapkannya sebelum mendaki. Ia makan sebuah pinyaram itu, cukuplah penangkal laparnya menjelang ke puncak gunung. Tiba-tiba angin semilir bertiup, angin yang disertai hujan gerimis. Kabut menjalar di sekitar pinggang gunung tersebut. Pemandangan Sutan Balun jadi terhalang oleh kabut, yang semakin lama semakin tebal.
            Akhirnya Sutan Balun memutuskan untuk menunda perjalanannya. Ia duduk di atas batu berselimut sarung. Udara pun mulai terasa dingin. Dan malam pun tiba. Halimun melayang di antara gelapnya malam.
            Di antara gelap, halimun yang menyebar di pinggang gunung itu, Sutan Balun merasakan dingin merasuk ke dalam tulang-belulangnya. Ia berusaha mengusir dingin dengan mengepalkan tangan. Tapi dingin terus menjalar ke sekujur tubuhnya tanpa tertahankan.
            Tidak berapa jauh, dari tempat duduk Sutan Balun, di balik halimun tampak sosok samar-samar. Kian mendekat sosok yang seakan-akan berselimut halimun tersebut. Sosok itu melayang, tidak berjejak di tanah. Bau semerbak harum menjalar sekitar itu. Aroma bunga dan kemenyan bercampur baur. Pun kedengaran bunyi puput salung mendayu-dayu.
            Mata Sutan Balun menangkap sosok tersebut. Semula ia melihat bayang putih di antara halimun. Tak lepas pandangan Sutan Balun dari sosok tersebut. Ternyata sosok itu adalah seorang perempuan berambut panjang. Rambutnya menjela ke tanah. Samar-samar lelaki itu melihat wajah cantik perempuan itu.
            "Tuan, Sutan Balun. Kemarilah,” ujar perempuan itu. Suaranya merdu bak buluh perindu.
            Berdetak keras jantung Sutan Balun mendengar suara itu. Seakan-akan suara merdu tersebut hendak menarik lelaki ini, mendekati perempuan tersebut. Sutan Balun menarik nafas dalam-dalam, mengatur nafas. Sepasang kakinya yang tadi hendak bergerak mengikuti ajakan perempuan itu, kini kembali terpaku bertahan di atas batu tempat duduknya.
            "Siapa engkau. Kenapa engkau tahu namaku.”
            Berderai gelak perempuan itu dalam kesunyian malam. "Sutan Balun, saya adalah Puti Kambang Baiduri, ratu gunung ini. Dan tidak sulit bagi saya untuk menebak siapa kamu. Bukankah kamu anak Indah Juliah dan Cati Bilang Pandai…”
            "Kamu memang benar. Tapi apa maksud kedatanganmu.”

            Lagi-lagi berderai gelak ketawa Puti Kambang Baiduri. "Maksud saya hendak mengajak engkau ke istanaku. Rakyatku pasti senang menerima kedatanganmu.”
            Diam sejenak Sutan Balun. Berpikir ia. Lalu berkata,”Terima kasih Puti Kambang Baiduri. Saya akan segera ke puncak gunung Merapi. Lain kali kalau ada waktu, saya bisa singgah ke istanamu, " jawab Sutan Balun seraya bangkit dari tempat duduknya.
            Tiba-tiba sepasang mata Puti Kambang Baiduri menyala-nyala. Ia membentangkan sepasang lengannya, menghalangi jalan Sutan Balun. "Hai lelaki bodoh. Lihatlah halimun di sekitar engkau. Halimun itu adalah lasykarku. Bila engkau menolak. Maka engkau diseret ke dalam jurang!”
            Halimun pecah menjadi berpuluh-puluh bagian, kemudian menjelma menjadi sosok peri. Puluhan perempuan berwajah cantik mengepung Sutan Balun.
            "Tangkap dia!”
            Tanpa menunggu perintah kedua kalinya dari Puti Kambang Baiduri, puluhan lasykar peri itu segera menghambur ke arah Sutan Balun. Sutan Balun berkelit, ia berkelabat di atas kepala para peri tersebut. Sementara itu Puti Kambang Baiduri pun berkelabat menyerang Sutan Balun membantu layskar-lasykarnya.
            Heboh di pinggang gunung Merapi. Malam yang tadi sunyi, kini terdengar teriakan-teriakan, cabang-cabang pohon bergoyang, tanah bergoyang. Dan sesekali kedengaran gelak berderai Puti Kambang Baiduri. Gelak berderai itu kedengaran sampai ke kaki gunung Merapi.
            Penduduk yang tinggal di kaki gunung tersentak dari tidur. Ketika mereka mendengar gelak ketawa, dan hiruk pikuk, bulu roma mereka berdiri ketakutan. Sehingga semakin membungkus tubuhnya dengan selimut rapat-rapat.
            Hampir sepenanakan nasi, pertarungan itu belum juga berakhir. Puti Kambang Baiduri dan lasykar belum mampu menangkap Sutan Balun. Lelaki itu amat gesit berkelabat ke sana-sini. Dalam kabut itu, dia bertengger di atas pucuk pohon. Dan ketika Puti Kambang Baiduri melesat mengejar, Sutan Balun mengibaskan sarungnya. Angin kibasan sarung tersebut menimbulkan angin berhawa panas.
Terperanjat Puti Kambang Baiduri, ia tidak menyangka Sutan Balun menyerangnya secepat itu. Ia tidak sempat berkelit. Bahunya disambar angin pukulan sarung Sutan Balun. Perempuan itu jatuh ke tanah bagai cubadak masak (nangka masak). Terhenyak di tanah Puti Kambang Baiduri beberapa jenak.
            "Puti…”
            "Puti baik-baik saja?”
            "Cederakah Puti?”
            Beberapa orang lasykar mendekati ratu mereka. Mereka cemas. Tapi tidak lama kemudian, Puti Kambang Baiduri bangkit. "Di mana Sutan Balun?”
            "Dia sudah lari, Puti.”
            Geram bukan main Puti Kambang Baiduri mendengar Sutan Balun lolos dari jeratannya. Ia meraung panjang. Dan rauangannya itu disambut oleh lolongan anjing hutan. **

Sutan Balun tiba di puncak Merapi. Ketika itu ayam berkokok di kejauhan, lelaki itu duduk termanggu pada sebuah batu besar. Ia memandang daerah sekitarnya, memandang langit. Langit yang seakan-akan terjangkau oleh tangan. Akhirnya ia mendapatkan sebuah gua, untuk bertapa. Cukup nyaman gua tersebut, di tengah-tengah ada sebuah batu hamparan untuk tempat bersemedi.
            Empat puluh hari lamanya, Sutan Balun bertapa dalam gua tersebut. Bermacam-macam godaan muncul tatkala ia bertapa. Ular besar melilit tubuhnya agar menghentikan tapanya. Namun Sutan Balun tetap bersiteguh.
            Kemudian datang pula jin dan peri. Ada yang berbentuk makhluk aneh, bertubuh pendek dengan kepala besar dan taring menyembul. Jin berkepala besar itu datang ramai-ramai seraya bertengger di atas kepala Sutan Balun.
            "Aku telan engkau, Sutan Balun.”
            "Ayo bangun. Kalau tidak, kami jadikan sate!”
            Malah ada pula yang mengelitik Sutan Balun. Tapi Sutan Balun tetap bertahan sampai ayam berkokok. Ketika malam tiba, datang lagi makhluk lain mengganggu. Seekor harimau melompat hendak menerkam. Tetap saja Sutan Balun tak tergoda. Setelah harimau menghilang, muncul lagi makhluk yang berbau busuk, melebihi busuk bangkai.
            Pada malam keempat puluh, seekor gagak hitam bertengger di atas kepala Sutan Balun. Beberapa jenak kemudian gagak hitam itu menjadi perempuan cantik. Harum bau tubuhnya semerbak. Ia mencium sekujur tubuh Sutan Balun, sambil membisikan rayuannya agar mau bersebadan dengan dia.
            Anjing hutan melolong. Sahut bersahut di luar sana.
            Tiba-tiba fajar menyingsing. Ayam berkokok. Dan perempuan itu menghilang bersama rintihan pilu karena ia gagal menghentikan tapa Sutan Balun. Sutan Balun membuka matanya, ia melihat ayahnya, Cati Bilang Pandai berdiri di hadapannya. Orang tua itu memakai jubah putih dengan sorban di atas kepala. Ia tersenyum pada Sutan Balun.
            "Anak denai, Sutan Balun. Empat puluh malam sudah engkau bertapa di gua puncak Merapi ini. Engkau telah melewati ujian dan godaan. Sudah saatnya engkau turun gunung.”
            "Tapi ayahanda, Saya masih betah di sini.”
            "Tempat ini hanya sebuah tempat perenungan. Bukan akhir dari perjalanan hidupmu. Memisahkan diri dari masyarakat tidaklah baik terlalu lama. Segala ilmu dan pengalaman yang engkau dapat di sini, harus kau ajarkan kembali. Lihatlah alam sekitarmu. Dari alam yang ada sekitarmu kamu bisa menimba ilmu. Jadikan alam terkembang ini guru”
            Orang tua itu memberi sebatang tongkat kepada Sutan Balun. "Ambillah tongkat ini. Siang engkau pertongkat, malam engkau perbantal. Ia dapat membantumu berjalan ke arah yang benar, dan menuntunmu bila tersesat di jalan. " Setelah Cati Bilang Pandai menyerahkan tongkat tersebut, ia pun menghilang.

sumber:tambodunia.blogspot.com
                                                                    Bersambung   --->>
                                                                          Ke Datuk Paerpatih nan Sabatang 2

Category: Minangkabau | Views: 1867 | Added by: dash | Rating: 0.0/0
Total comments: 0
Nama *:
Email:
Code *: