Selasa, 22 Agust 2017, 8:49:08
Main » 2013 » Agustus » 22 » WARIS DALAM ADAT MINANGKABAU
9:55:32
WARIS DALAM ADAT MINANGKABAU
Warisan atau di minangkabau disebut "warih"berasal dari bahasa arab yang berarti menerima harta peninggalan dari seseorang.Waris di minangkabau adalah soko turun manurun,pusako jawek bajawek.Menurut pengertiannya :
soko
adalah gelar adat yang diterima turun temurun
pusako adalah harta peninggalan yang diwariskan menurut adat secara keturunan dari ibu,selama masih ada.Warih dalam adat bisa berupa sawah ladang,tanah,pandam pakuburan,rumah tanggo,benda buatan juga gelar pusako,dan lainnya.tetap berputar dalam adat secara silih berganti,sedang pusako bisa berpindah disebabkan karena punah,tergadai atau terhibahkan.perpindahan harta pusaka dari waris tali darah kepada yang lain diatur oleh adat secara hukum adat tentang waris harta pusaka.

Menurut adat minangkabau yang
waris dala adat minangkabaumenganut sistim matrilineal atau garis keturunan dari pihak ibu/perempuan terdapat dua macam waris.
1. Warih batali darah
2. Warih batali sabab.

1.Warih batali darah:
adalah warih yang berasal dari keturunan ibu,dan terbagi atas dua macam
a. Warih nan saluruh
b. Warih nan kabulieh
Keduanya ini juga disebut dengan warih karano pangkek.

a.Warih nan saluruh:
Seluruhanggotakemenakan,adik,kakak,cucu,pawiek,ciciek,ibu,mamak laki laki,dan perempuan dari satu lingkungan cupak adat,atau payuang yang satu dari soko,Dalam adat hal ini disebut bertali darah dari tali ibu.


Jauah nan bulieh ditunjukkan
Ampiang nan bulieh dikakokkan
Saluruah ka ateh,saluruah ka bawah
Ampek ka ateh,ampek ka bawah

Kato pusako manuruik adat
Batuang tumbuah di buku
Karambia tumbuah di mato
Tuneh tumbuah di tunggua

Batunggua bapanabangan
Basasok bajarami
Bapandam bapakuburan.

Semua pusako diterima secara turun temurun oleh anggota kaum baik pihak laki laki maupun perempuan tanpa terkecuali,dan tidak dapat diperjual belikan.

Bungka tak sakapiang
Miang tak babagi
Sakutu indak babalah
Hak bapunyo,ganggam bauntuak

b.Warih nan kabulieh:
Pada mulanya warih nan kabulieh ini berasal dari warih nan saluruh juga.Dek karano alam bakalebaran,anak buah bakambangan,maka apabila ada salah seorang atau beberapa orang berniat pindah ketempat lain untuk mencari penghidupan,dan meluaskan keturunan,dengan persetujuan bersama dari anggota kaum yang ditinggalkan.Apabila ditempat yang dituju anggota yang pindah ini manaruko sawah jo ladang,mambuek rumah dengan tanggo,mambuek labuah jo tapian,mancari pandam pakuburan,sehingga menjadi suatu kesatuan kaum yang jumlahnya besar pula.

Untuk memimpin kaum anggota kaum yang berpindah ini dengan kata mufakat di dirikan pula gelar pusako (soko),yang gelarnya sama dengan gelar soko yang ditinggalkan di kampung halaman (tempat pertama),maka kaum inilah yang disebut warih nan kabilieh dari kaum asalnya.

Secara timbal balik dapat menggantikan soko yang bersangkutan begitupun dengan pusako bila diperlukan.Umpama kaum pertama demi menghindari kepunahan maka boleh menjemput kaum ditempat yang kedua untuk menyambung keturunan,soko maupun pusako.Begitupun juga sebaliknya,dan dalam adat disebutkan
Januah cinto mancinto,
kok dakek jalang manjalang
supayo tali nan jan putuih
Jajak nan jan lipuah
Jauah bulieh ditunjuakkan
Dakek bulieh dikakokkan
Satitiak bapantang hilang
Sabarih bapantang lupo
Nan tak ragu karano banyak
Nan tak lupo karano lamo

Mengenai harta pusaka )pusako),tidak dibenarkan untuk dipindahkan andai telah punah salah satu kaum yang bersangkutan,kabau mati kubangan tingga,ruso malompek baluka tingga,hanya boleh diurus langsung oleh pihak yang tinggal dengan melanjutkan keturunan dengan jalan membawa gantinya yang baru dari dua kaum yang bersangkutan.

2. Wari batali sabab:
Adalah karena suatu sebab yang mengakibatkan menjadi waris suatu kaum.Dalam adat dinyatakan bahwa soko tak dapek di sokoi,pusako dapek di pusakoi.artinya gelar adat tak dapat di warisi namun harta pusaka dapat diwarisi dengan ketentuan tagantuang manuruik alua jo patuik,dengan arti kata melalui kata mufakat bersama.

Warih batali sabab dibagi atas tiga macam
a.Warih sabab batali adat
b.Warih sabab batali buek
c.Warih sabab batali budi


Warih sabab batali adat:
Suatu kaum dapat menjadi waris harta pusaka suatu kaum karena bertali adat,walau berlainan gelar pusako,namun berada dalam lingkungan suatu adat atau dalam suatu kampung atau nagari.

Umpama dalam suatu nagari ada dua atau tiga penghulu adat dan memiliki soko (gelar pusaka)adat yang berlainan namun pada dasrnya karena diikat oleh suatu kesatuan dan kekerabatan disebabkan hukum,adat,rasa dan malu,serta setiap pekerjaan dlaksanakan bersama-sama,barek samo dipikua,ringan samo dijinjiang.
Sabarek saringan
sahino samalu
sakorong sakampuang
salabuah satapian
sa adat salimbago
Umpama ada salah satu kaum adat yang mengalami kepunahan maka harta pusaka dapat diwarisi oleh penghulu (soko) adat lain sesuai dengan tali adat mulanya,mana yang lebih dekat.

Nan bajari
Nan batampok
Nan baeto
Nan badapo

dan inil harus menurut alur dengan patut sesuai dengan hukum adat.Namun tentang gelar adat (soko)tidak dapat diwarisi.

Warih sabab batali buek:
Kesepakatan yang dibuat bersama dalam suatu suku dengan kata mufakat untuk menjadikan seseorang memiliki dan mewarisi harta pusaka dari seorang penghulu suatu kaum,walaupun bukan keluarga atau kemenakan ataupun sepesukuan.hal ini dapat terjadi karena besarnya jasa orang tersebut sehingga penghulu suatu kaum mengangkat orang itu menjadi kemenakan sepanjang adat.

Manitiak baru di tampuang
maleleh baru dipaliek
Tagantuang ateh kato mufakat

Apabila penghulu yang mengangkat orang tersebut telah habis keturunannya,maka orang itu dapat menerima waris harta pusaka setelah mufakat dari penghulu-penghulu lainnya dalam kaum tersebut


Warih sabab batali budi:
Seseorang yang pada mulanya tidak ada sangkut paut,baik jasa maupun kekeluargaan datang kepada seorang penghulu,dan dengan kata sepakat orang yang datang tersebut diangkat menjadi kemenakan.setelah penghulu kaum itu meninggal maka orang tersebut dapat menerima harta pusaka.

Ketiga macam warih batali sabab diatas hanya dapat mewarisi harta pusaka tinggi dan ini terjadi bila kaum suatu penghulu telah punah,namun semuanya dilaksanakan harus dengan rundingan dan kata mufakat dan biasaya terjadi pada yang telah punah.


referensi : 1. H.Idrus hakimy Dt.Rj.Penghulu
                   (Pegangan Penghulu,Bundo kanduang dan pidato Alua  pasambahan)
                2. Materi terkait di internet


Category: Minangkabau | Views: 2331 | Added by: dash | Rating: 0.0/0
Total comments: 0
Nama *:
Email:
Code *: